BPSPL Denpasar: 31 Penyu dan 7 Lumba-lumba Mati di Perairan Bali di 2021
Ilustrasi. (Antara)

Bagikan:

DENPASAR – Kepala Balai Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Lut (BPSPL) Denpasar, Permana Yudiarso mengatakan, sejumlah biota laut mati di Perairan Bali sepanjang tahun 2021.

Berdasarkan catatan BPSPL Denpasar, ada 31 penyu mati, 7 ekor lumba-lumba dari berbagai jenis, 1 ekor hiu putih, 1 ekor hiu paus, 1 ekor ikan Mola-mola dan 1 ekor moncong pari gergaji mati di Perairan Bali.

"Jadi dari data itu. Catatan yang kita kumpulkan bermacam-macam (penyebab kematiannya) kebanyakan yang kita ketahui setelah kita nekropsi," kata Permana, dikutip VOI BALI, Selasa, 28 Desember.

BPSL ungkap penyebab biota laut terdampar dan mati di Perairan Bali

Namun, bila ditotal sepanjang tahun 2021 di wilayah kerja BPSPL Denpasar seperti di wilayah Perairan Bali, Nusa Tenggara Timur (NTT), Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Jawa Timur, tercatat ada 6 ekor hiu paus mati, 5 ekor Dugong mati, 71 ekor paus mati, 102 penyu mati, 39 ekor lumba-lumba mati dan 1 ekor ikan Mola-mola mati.

Kejadian terdamparnya biota laut dilindungi di perairan Indonesia khususnya di wilayah kerja BPSPL Denpasar tahun 2021, masih sering terjadi. Menurut para ahli terdamparnya biota laut tersebut disebabkan karena polusi suara dan penggunaan sonar bawah laut yang mengganggu sistem navigasi, aktivitas perburuan atau penangkapan dan karena terluka atau sakit.

Selain itu, juga dari hasil nekropsi ada di sejumlah tubuh penyu ditemukan sampah atau senar pancing hingga mati dan ada juga karena cuaca ekstrem penyu terdampar lalu mati.

"Kalau penyu, di dalamnya kita (temukan) senar pancing, ada sampah. Itu yang ketahuan tapi yang jadi masalah penyebabnya banyak yang tidak ketahuan. Itu, hanya beberapa sisanya hanya dugaan yang kita ketahui di Bulan Desember ada cuaca buruk jadi dia terbawa arus ke laut jadi penyebabnya rata-rata seperti itu," imbuh Permana.

Sementara untuk kematian lumba-lumba belum banyak dilakukan nekropsi. Tapi secara statistik mereka mati karena sakit atau karena terjerat jaring nelayan.

"Sampai sejauh ini, yang kita nekropsi itu (hasilnya) tidak banyak. Ini, (hasil) statistik bisa karena dia sakit, kebanyakan mati kita kuburkan dan kita tidak tau apa penyebabnya karena dia sudah mati. Kalau, seperti Lumba-lumba kalau dampak cuaca ekstrem agak susah menjadi penyebabnya karena secara teknis dia bisa mengatasi itu dugaan karena terjerat jaring nelayan atau sakit," papar Permana.

Sementara, untuk ikan paus yang mati kalau mengambil contoh di Pantai Mertasari, Denpasar, setelah dinekropsi ternyata di pencernaannya ada senar pancing.

"Paus yang kita temukan di Pantai Mertasari ternyata dalam pencernaannya ada senar pancing. Kemudian, ada beberapa karena sakit," jelasnya.

Sedangkan untuk ikan Hiu Paus ada dua kemungkinan mati yakni karena terjerat jaring nelayan atau karena mengejar mangsanya sampai ke pesisir pantai, lalu terdampar dan mati.

"Hiu Paus, biasanya terjerat jaring nelayan atau karena dia mengejar mangsa dan dia bernafas dengan insan ketika dia mendekati perairan pesisir dia agak susah bergerak. Ketika dia di perairan dangkal dia terdampar dan mati," ujar Permana.

Artikel ini telah tayang dengan judul Sepanjang 2021, Ada 31 Penyu, 7 Lumba-lumba hingga 1 Hiu Paus Mati di Perairan Bali.

Selain informasi soal sejumlah biota laut di perairan Bali mati, simak perkembangan situasi terkini hanya di VOI. Waktunya Merevolusi Pemberitaan!