Bagikan:

JAKARTA – Proyek yang diusulkan oleh SpaceX, perusahaan milik Elon Musk, bersama Angkatan Udara AS untuk menguji pengiriman kargo roket hipersonik ke sebuah atol terpencil di Pasifik berpotensi mengancam populasi burung laut yang berkembang di kawasan tersebut. Hal ini menjadi perhatian para ahli biologi yang telah bekerja selama lebih dari satu dekade untuk melindungi satwa liar di sana.

Angkatan Udara AS mengumumkan pada Maret 2025 bahwa mereka telah memilih Johnston Atoll, wilayah Amerika Serikat yang berjarak sekitar 1.300 km dari Hawaii, sebagai lokasi uji coba program Rocket Cargo Vanguard yang dikembangkan bersama SpaceX.

Proyek ini bertujuan untuk menguji pendaratan kembali roket yang dirancang untuk mengirim hingga 100 ton kargo ke mana saja di Bumi dalam waktu sekitar 90 menit, sebuah terobosan dalam logistik militer.

Namun, menurut para ahli, proyek ini bisa berdampak buruk bagi sekitar satu juta burung laut yang bersarang di atol tersebut sepanjang tahun. Johnston Atoll merupakan bagian dari Pacific Remote Islands Marine National Monument dan U.S. National Wildlife Refuge, yang melindungi 14 spesies burung tropis, termasuk red-tailed tropicbirds, red-footed boobies, dan great frigatebirds yang memiliki rentang sayap hingga 2,5 meter.

Menurut Steven Minamishin, seorang ahli biologi di Hawaii yang bekerja untuk National Wildlife Refuge System, segala bentuk aktivitas penerbangan di atol ini akan berdampak negatif pada populasi burung.

Senada dengan itu, Ryan Rash, ahli biologi dari Universitas Texas yang pernah bekerja hampir setahun di Johnston Atoll, menjelaskan bahwa suara keras dari pendaratan roket bisa membuat burung-burung panik dan meninggalkan sarang mereka, sehingga berujung pada kegagalan reproduksi.

Proyek ini juga mencakup pembangunan dua landasan pendaratan serta pengujian sepuluh kali pendaratan roket selama empat tahun ke depan. Saat ini, Angkatan Udara dan SpaceX sedang mempersiapkan penilaian lingkungan untuk mendapat tanggapan publik, sebagaimana diwajibkan oleh National Environmental Policy Act sebelum proyek dapat dilanjutkan.

Dalam pemberitahuan resminya di Federal Register, Angkatan Udara menyatakan bahwa proyek ini tidak mungkin memiliki dampak lingkungan yang signifikan. Namun, mereka mengakui bahwa proyek ini dapat membahayakan burung migran.

Seorang juru bicara Angkatan Udara mengatakan bahwa pihaknya sedang bekerja sama dengan U.S. Fish and Wildlife Service serta National Oceanic and Atmospheric Administration’s Marine Fisheries Service untuk menilai dampak dan menyusun langkah-langkah mitigasi yang diperlukan.

Sementara itu, SpaceX belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar terkait proyek ini.

Habitat yang Kritis untuk Burung Laut

Johnston Atoll adalah habitat penting bagi burung laut di Pasifik yang menghadapi ancaman kenaikan permukaan laut dan kehilangan tempat bersarang. Desirée Sorenson-Groves, presiden National Wildlife Refuge Association, menekankan pentingnya perlindungan atol ini, mengingat habitat alami burung laut semakin berkurang.

“Atol-atol terpencil seperti ini adalah satu-satunya tempat yang tersisa bagi mereka,” ujarnya, dikutip VOI dari Reuters. “Kita telah menginvestasikan banyak sumber daya untuk mengembalikan satwa liar ke tempat ini.”

Johnston Atoll sebelumnya digunakan oleh militer AS untuk uji coba nuklir dari akhir 1950-an hingga 1962, serta sebagai tempat penyimpanan senjata kimia, termasuk Agent Orange, dari 1972 hingga 1975. Setelah pembersihan lingkungan selesai pada 2004, atol ini menjadi suaka bagi burung laut dan burung pantai migran.

Eric Baker, seorang fotografer satwa liar dan mantan sukarelawan Fish and Wildlife Service, mengatakan bahwa upaya konservasi di Johnston Atoll telah dilakukan dengan sangat ketat untuk menghindari gangguan terhadap satwa liar.

Sejak 2010 hingga 2021, tim konservasi dikirim secara bergantian untuk menghilangkan spesies semut kuning gila yang invasif. Para pekerja bahkan harus menyegel pakaian, membekukan dan mensterilkan peralatan, serta menggunakan alas kaki khusus untuk mencegah spesies asing masuk ke atol ini.

"Kami mengikuti aturan ketat untuk menghindari gangguan sekecil mungkin," ujar Baker.

Baker khawatir proyek SpaceX dapat menghancurkan semua upaya konservasi yang telah dilakukan selama bertahun-tahun. "Sarang dan burung-burung di sana bisa saja lenyap begitu saja," katanya.