JAKARTA - Di era digital saat ini, semakin banyak anak yang mengalami kesulitan dalam belajar dan menjaga fokus. Salah satu penyebab utama dari fenomena ini adalah kebiasaan menonton video pendek seperti reels di Instagram atau platform serupa.
Pola konsumsi konten yang cepat dan singkat membuat anak terbiasa dengan stimulasi instan, sehingga mereka sulit berkonsentrasi pada hal-hal yang memerlukan perhatian lebih lama, seperti membaca buku atau memahami materi pelajaran di sekolah.
Menurut dokter spesialis kedokteran jiwa dari Rumah Sakit Hermina Bitung, dr. Julian Raymond Irwen, SpKJ, anak-anak yang sering menonton video pendek berisiko mengalami hyperstimulation, di mana otak mereka terus-menerus distimulasi oleh perubahan gambar yang cepat. Kondisi ini bisa berdampak pada cara mereka menerima dan memproses informasi, yang pada akhirnya memengaruhi minat mereka dalam belajar.
Ia menjelaskan anak yang terlalu sering menghabiskan waktu dengan video pendek akan mengalami gangguan fokus yang cukup signifikan. Banyak di antara mereka yang tampak gelisah atau sering menoleh ke kanan dan kiri ketika diajak berbicara.
Hal ini menunjukkan mereka tidak terbiasa untuk fokus pada satu objek dalam waktu lama. Selain itu, anak-anak ini juga cenderung lebih emosional dan mudah marah, terutama saat orang tua membatasi penggunaan gadget.
Lebih lanjut, dr. Julian menyebutkan kebiasaan menonton video pendek secara berlebihan juga dapat menyebabkan anak menunjukkan gejala yang menyerupai Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD). Studi menunjukkan bahwa anak yang kecanduan gadget sering mengalami kesulitan dalam berkonsentrasi, mirip dengan anak-anak yang didiagnosis dengan ADHD.
Kebiasaan menikmati video dengan warna mencolok dan efek visual yang menarik membuat mereka kehilangan minat terhadap buku pelajaran yang umumnya memiliki tampilan sederhana dan lebih statis. Akibatnya, anak menjadi semakin malas belajar dan enggan membaca buku.
Untuk mengatasi masalah ini, orangtua perlu berperan aktif dalam membimbing anak agar tidak kecanduan gawai. Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah dengan membatasi waktu penggunaan gadget dan menggantinya dengan kegiatan yang lebih bermanfaat.
BACA JUGA:
Mengajak anak membaca buku bersama dapat menjadi solusi untuk membangun kebiasaan literasi sejak dini. Selain itu, kegiatan fisik seperti berenang atau bermain bulu tangkis bisa menjadi alternatif hiburan yang tidak hanya menyenangkan tetapi juga baik untuk perkembangan motorik anak.
Selain itu, penting bagi orang tua untuk mengenali tanda-tanda anak yang mulai kecanduan gadget. Beberapa di antaranya adalah mudah marah saat gawai diambil, menunjukkan perubahan emosi yang drastis, rela mengorbankan waktu tidur untuk bermain gadget, serta kesulitan melepaskan diri dari layar meskipun sedang berkumpul dengan keluarga.
Dalam dunia yang semakin digital ini, penggunaan teknologi memang tidak bisa dihindari, tetapi orang tua tetap memiliki peran penting dalam mengontrol dan mengarahkan anak agar tetap memiliki keseimbangan dalam kehidupan mereka.
Langkah ini tidak hanya membantu meningkatkan konsentrasi anak tetapi juga menjaga kesehatan mental dan emosional mereka untuk masa depan yang lebih baik. Demikian seperti dikutip ANTARA.