Bagikan:

JAKARTA - Selama sebulan terakhir, velocity menjadi tren yang digandrungi banyak orang. Meski disebut sebagai trennya generasi Z, rupanya velocity juga dilakukan oleh berbagai generasi, bahkan sampai Presiden Prabowo Subianto.

Saat ini velocity ramai dibahas warganet. Awalnya, velocity populer di TikTok, namun lama-kelamaan tren ini merambah ke platform media sosial lainnya.

Banyak content creator memanfaatkan tren ini untuk membuat video dengan transisi gerakan yang lebih dinamis, sehingga menghasilkan visual yang menarik.

Terkini, virus velocity juga menjangkiti sejumlah artis hingga pejabat. Presiden Prabowo Subianto diketahui ikut belajar velocity setelah diajak awak media mengikuti goyang tersebut saat open house Idulfitri beberapa waktu lalu.

Demikian pula dengan Menteri Keuangan Sri Mulyani yang ikut ketularan tren joget velocity saat Lebarang bareng keluarga besar di Semarang.

Bermula dari TikTok

Media sosial TikTok memang hampir selalu menghadirkan beragam tren kreatif yang menarik perhatian penggunanya. Sebelum virus velocity mewabah, sudah banyak tren lainnya yang diikuti masyarakat.

Tren dance challenge, video tutorial, sampai tren-tren lainnya seperti we listen, we don't judge, dan Aku Bisa Yura, juga tak luput dari perhatian warga.

Setidaknya sebulan terakhir ini giliran tren velocity yang viral. Momen buka bersama saat Ramadan sampai silaturahmi ketika Lebaran bahkan disebut kurang lengkap tanpa melakukan joget velocity.

Istilah velocity sebenarnya diambil dari bahasa Inggris, yang artinya "kecepatan". 

Velocity adalah salah satu teknik editing video yang populer di platform TikTok. Dalam tren ini, pengguna medsos memanfaatkan efek bawaan aplikasi yang dikenal dengan nama Velocity untuk mengatur kecepatan video.

Media sosial TikTok kerap menghadirkan tren yang diikuti banyak orang. (Unsplash)

Dengan menggunakan efek ini, akan tercipta tampilan visual yang dramatis dan sinematik, sehingga sering diterapkan dalam video tarian, transisi, atau untuk menyoroti momen spesifik.

Durasi video velocity di TikTok cukup beragam, tapi umumnya hanya berlangsung sekitar 10 sampai 14 detik. 

Pengaturan gerakan hingga pemilihan lagu menjadi elemen penting dalam tren ini. 

Menurut sejumlah sumber, tren ini mulanya hanya digandrungi pengguna media sosial di Indonesia. Namun belakangan tren velocity ternyata juga banyak diikuti idol Korea Selatan.

Tak heran, tren velocity ini makin viral karena memang banyak idol Korsel yang digemari di Indonesia. 

Bandwagon Effect

Sebenarnya ini bukan kali pertama masyarakat Indonesia ikut-ikutan tren yang sedang viral di media sosial. Pada dasarnya, fenomena ikut tren ini tidak hanya terjadi di dunia medsos saja. 

Dalam kehidupan sehari-hari, manusia juga gemar mengikuti hal-hal yang dianggap viral. 

Contohnya adalah tren botol minum merk tertentu yang banyak dibeli masyarakat padahal harganya lumayan mahal.  

Mengapa manusia cenderung mengikuti hal-hal yang viral? 

Kata Dosen Psikologi Universitas Sebelas Maret (UNS) Fadjri Kirana Anggrani, SPsi MA, perilaku mengikuti tren viral memiliki sebutan tersendiri, yaitu Bandwagon Effect.

Bandwagon Effect tergorolong ke dalam fenomena psikologi. Istilah ini digunakan untuk menggambarkan fenomena di mana seseorang cenderung mengikuti suatu tren, mulai dari gaya hidup, perilaku, cara berpakaian, cara berbicara, atau konten media sosial.

Menteri Keuangan Sri Mulyani ikut tren velocity saat bersama keluarga besar di Semarang. (Instagram/@smidrawati)

"Bandwagon Effect merupakan salah satu bentuk bias kognitif karena adanya pengaruh dari orang lain maupun kelompok," kata Fadjri, mengutip laman resmi kampus.

Fadjri menjelaskan, tren yang diketahui dengan istilah viral biasanya terjadi di media sosial seperti TikTok dengan exposure yang tinggi.

Hal ini akan memengaruhi orang sehingga menjadi penasaran untuk mengikuti suatu tren.

"Exposure ini makin berhasil memuat orang berperilaku ikut-ikutan," ia mengimbuhkan. 

Bijak Bermedia Sosial

Lebih lanjut, Fadjri juga menguraikan bagaimana exposure dapat memengaruhi masyarakat mengikuti tren. Pertama karena adanya konformitas atau sosok pemeran dalam exposure tesebut mendorong masyarakat mengikuti tren.

Kedua, pengaruh interpersonal, yaitu meski exposure di media sosial tinggi, namun seseorang mengikuti hal viral karena bujukan orang terdekat.

Ketiga adalah fear of missing out atau disebut juga FOMO, yaitu karena ada perasaan takut ketinggalan lantaran tak ikut yang tengah viral.

Terakhir, curiosity yaitu rasa penasaran yang timbul dengan apa yang terjadi karena adanya exposure tinggi di media sosial.

"Serta semua motif keputusan yang mendasari i atas bisa menuntut kita untuk mengambil keputusan ikut-ikutan secara rasional atau intuitive berlaka," Fadjri menjelaskan.

Lebih lanjut psikolog UNS itu berperan agar masyarakat bisa bijak menyikapi sesuatu yang tengah menjadi tren atau viral. 

Mengikuti sesuatu yang sedang viral boleh-boleh saja, menurut Fadjri, namun perlu dipikirkan secara matang mengenai kebutuhan dan dampaknya pada diri.

"Dengan demikian, keputusan yang diambil atas dasar rasionalitas bukan intuisi karena ikut-ikutan," pungkasnya.